Sunday, July 26, 2009
Nilai adalah kemampuan sesuatu membikin sedemikian rupa, sedangkan Harga ‎adalah sejumlah pengorbanan untuk mendapatkan nilai. Contoh beras. Satu liter ‎beras mempunyai kemampuan (bernilai) untuk mengenyangkan tiga orang dalam ‎satu waktu tertentu. Kemampuan (nilai) beras tidak dipengaruhi oleh mau atau ‎tidak mau-nya manusia. Untuk mendapatkan satu liter beras kita harus ‎mengeluarkan sejumlah pengorbanan misalnya sejumlah uang sesuai dengan ‎harga beras tersebut. Pengorbanan disini bukan pada bentuk uangnya tapi pada ‎kerja kita untuk mendapatkan uang tersebut. Jadi Nilai ada pada benda (dalam hal ‎ini beras) dan harga ada pada manusia (bentuk pengorbanannya).
‎ Nilai Iman adalah kemampuan isi Iman menghantarkan manusia membentuk ‎satu tatanan budaya kehidupan yang tangguh. Harga Iman adalah sejumlah ‎pengorbanan yang kita lakukan untuk mendapatkan Nilai Iman. ‎
‎ Seperti telah disinggung di atas bahwa perkataan Iman belum bernilai ‎sebelum digandeng dengan perkataan yang lain. Iman akan bernilai setelah ‎digandeng dengan satu ajaran, seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 4 sbb: ‎
Artinya: "(Yang disebut Muttaqin) yaitu yang hidup berpandangan dan bersikap ‎dengan apa yang telah diturunkan menurut sunnah anda (Muhammad) yakni yang ‎sama dengan apa yang telah diturunkan menurut sunnah Rasul-Rasul sebelum ‎anda, dengan mana mereka meyakini tujuan terakhir (Hasanah di dunia dan ‎hasanah di akhirat) dalam keadaan bagaimana pun".‎
‎ Seperti berdasar hadits bahwa Iman adalah Pandangan dan Sikap Hidup, ‎maka yu minuuna bima ungjila ilaika jangan lagi diartikan mereka yang percaya ‎pada penurunan Al Qur'an , tetapi mereka yang berpandangan dan bersikap hidup ‎dengan sesuatu yakni Al-Qur'an yang telah diturunkan menjadi menurut sunnah ‎Rasul (Muhammad) atau Al Qur'an menurut sunnah Rasul . Jadi disini nilai Iman ‎ditentukan oleh ajaran Allah yakni Al-Qur'an menurut sunnah Rasul dan Iman ‎yang demikian disebut Iman yang bernilai Haq. Maka konsekwensinya: wa bil ‎akhirati hum yu qinun akan mencapai satu kesudahan terakhir hasanah fid dunya ‎wa hasanah fil akhirat.‎
‎ Sesungguhnya nilai Iman itu tidak hanya ditentukan oleh Al-Qur'an menurut ‎sunnah Rasul saja, tetapi bisa juga oleh ajaran lain seperti diberitakan dalam surat ‎An-Kabut ayat 52 sbb
Artinya: "Tegaskan (hai Muhamad/Orang Beriman) cukuplah Allah (dengan ‎pembuktian Al Qur'an ms rasul) ini menjadi pemberi kesaksian diantara saya ‎‎(yang hidup berpandangan dan bersikap dengan Al-Qur'an menurut Sunnah Rasul ‎‎) dan kalian (yang hidup berpandangan dan bersikap dengan Dzulumat menurut ‎Sunnah Syayatin). (Allah) yang meng-Ilmu-i segala kehidupan organis - biologis ‎dan kehidupan sosial budaya. Dan mereka hidup berpandangan dan bersikap ‎dengan ajaran Bathil, yaitu mereka yang bersikap negatif terhadap ajaran Allah ‎‎(Al-Qur'an menurut sunnah Rasul-Nya) niscaya mereka yang demikian adalah ‎yang hidup rugi (perusak kehidupan dimana saja pun)". ‎
‎ Jadi nilai Iman disini ditentukan oleh ajaran Bathil dan Iman yang demikian ‎dikatakan Iman yang bernilai Bathil. Maka konsekwensinya ula ika humul ‎khaasiruun niscaya mereka yang demikian adalah yang hidup rugi/perusak ‎kehidupan dimana saja pun.‎
‎ Apa itu ajaran Bathil? Maka berdasarkan surat An-Nisa ayat 51 :‎
Artinya; "Tidakkah kalian melihat mereka yang telah mendapat nasib kehidupan ‎sial dari para Ahli Kitab, mereka hidup berpandangan dan bersikap menurut ‎ajaran Idealisme (Jibti) dan Naturalisme (Thagut) dan mereka berkata kepada ‎yang bersikap negative terhadap ajaran Allah ms Rasul (hidup atas pilihan ‎Dzulumat ms Syayatin) bahwa: dibanding dengan mereka yang hidup ‎berpandangan dan bersikap dengan ajaran Allah ms Rasul-Nya, mereka memiliki ‎system kehidupan yang lebih ilmiah adanya".‎
Ajaran Bathil itu terdiri dari ajaran Jibti (Idealisme) dan Thagut (Naturalisme).‎
‎ ‎
Pembuktian siapa mereka penganut ajaran Bathil sebenarnya perhatikan Surat Al-‎Bayyinah ayat 1 sbb:‎
Artinya: "Orang-orang kafir (yg bersikap negative terhadap ajaran Allah ms ‎Rasul) yang terdiri dari para Ahli Kitab dan musyrikin (yang hidup dualisme ‎dengan zulumat ms Syayatin) tidak akan meninggalkan (ajaran Dzulumat ms ‎Syayatin), sebelum mereka mendapat pembuktian ilmiah (dari Allah ms Rasul-‎Nya)".‎
‎ Jadi berdasar ayat di atas bahwa Jibti = Ahlul Kitab sedangkan Thagut = ‎Musyrikin dan mereka semua adalah golongan Kafir.‎
‎ Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa Al-Qur'an memberikan ‎nilai kepada perkataan Iman menjadi dua golongan yakni Iman Haq dan Iman ‎Bathil. Dimana Iman Haq adalah Pandangan dan Sikap hidup dengan ajaran Al ‎Qur'an menurut sunnah Rasul atau dengan Ajaran Nur sedangkan Iman Bathil ‎adalah Pandangan dan Sikap hidup dengan ajaran Dzulumat menurut sunnah ‎Syayatin atau Ajaran Dzulumat.‎

0 komentar:

Post a Comment